Perceraian

September 29, 2008

Perceraian

Setiap pasangan menginginkan keutuhan dalam membangun rumah tangga. Namun realitas menunjukkan angka perceraian kian meningkat. Adanya tekanan sosial di masyarakat (social pressure) bahwa bercerai bukan merupakan hal yang tabu atau aib di masyarakat, bercerai sudah menjadi hal yang biasa. Bercerai adalah hal yang halal tetapi di benci oleh Allah SWT. Bercerai menimbulkan masalah sosial bagi kelangsungan hidup anak-anak dan orang tua. Perceraian merobohkan tiang rumah tangga. Lalu bagaimana?

***

Perceraian

Oleh: Najlah Naqiyah

Tulisan ini terinspirasi dari laporan Marzuqi A. haris (wartawan Radar Bromo) tentang maraknya perceraian di Kabupaten Probolinggo hari selasa, 20 Pebruari 2007. Tulisan tersebut memuat data dan latar belakang peristiwa yang memicu tingginya kasus perceraian, hingga sehari PA bisa menggelar 15 sidang perceraian. Tulisan ini diharapkan menjadi ruang dialog untuk membicarakan kasus perceraian yang merisaukan penulis.

Setiap pasangan menginginkan keutuhan dalam membangun rumah tangga. Namun realitas menunjukkan angka perceraian kian meningkat. Adanya tekanan sosial di masyarakat (social pressure) bahwa bercerai bukan merupakan hal yang tabu atau aib di masyarakat, bercerai sudah menjadi hal yang biasa. Bercerai adalah hal yang halal tetapi di benci oleh Allah SWT. Bercerai menimbulkan masalah sosial bagi kelangsungan hidup anak-anak dan orang tua. Perceraian merobohkan tiang rumah tangga. Kepercayaan antar pasangan semakin rapuh dan rusak.

Angka perceraian di kabupaten Probolinggo tergolong tinggi, angka perceraian tercatat di PA Kabupaten Probolinggo pada Desember 2006, terdapat 123 kasus perceraian. Sedangkan januari 2007 mencapai 120 kasus. Untuk bulan pebruari 2007 angka perceraian tetap tinggi. (Radar Bromo, 20/02/2007). Penelitian Goleman di Amerika, menyebutkan dari 10 orang pasangan menikah, hanya 3 pasangan saja yang mampu mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka. Dari bukti tersebut, krisis perkawinan berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Hal yang ditengarahi menjadi polemik yang memicu keretakan rumah tangga adalah tidak adanya kecerdasan emosi dalam memahami perasaan pasangan.

Menurut Herani, seorang panitera, setiap hari PA menggelar sidang cerai. Biasanya setiap senin, PA menggelar 15 kasus sidang cerai. Sedangkan hari-hari lain, sidang cerai dibawah angka sepuluh. (radar bromo, 20/02/2007). Masih menurut Panitera tersebut, paling banyak yang mengajukan perceraian, pasangan usia dibawah umur 30 tahun. Penyebab perceraian dilatarbelakangi karena pernikahan di bawah umur dan persoalan ekonomi. Fakta tingginya angka perceraian merupakan rapuhnya pondasi rumah tangga di masyarakat. Mengapa masyarakat sedemikian mudah mengajukan gugatan cerai, setelah mereka mengadakan perjanjian suci dengan Tuhan (baca: akad nikah) ?. Pertanyaan ini menggelitik penulis untuk sejenak merenungi fenomena perceraian yang kian marak terjadi.

Pembajakan Emosi (Hijacking)

Melongok penyebab maraknya gugatan cerai kebanyakan dipicu oleh persoalan sepele, kemudian dibesar-besarkan. Misalnya seorang suami menggugat cerai istrinya hanya karena si istri menggunakan HP milik suami tanpa ijin, kemudian suami menuduh istri menelpon laki-laki bukan muhrim tanpa sepengetahuan suami, Suami marah dan melakukan gugatan cerai ke PA. Contoh ini, adalah sebagian kecil masalah emosi yang menimbulkan prasangka buruk secara terus menerus menyebabkan perceraian. Pasangan tersebut dibajak emosi. Masalah emosi pasangan antara laki-laki dan perempuan berbeda, dikarenakan oleh akar pada masa kanak-kanak.

Akar masa kanak-kanak laki-laki dan perempuan tidak sama. Anak-anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan dalam hal permainan yang mereka sukai, pola pendidikan emosi, hal bermain, rasa bangga, dan pokok pembicaraan. Anak laki-laki menyukai permaian yang berhubungan dengan ketangkasan, kemandirian, saling bersaing, bertahan sedangkan perempuan cenderung bekerjasama, pokok pembicaraan perempuan berhubungan dengan emosi, keterampilan bahasa. Sedangkan laki-laki banyak membicarakan tentang kemandirian, dan rasa bangga pada hal-hal yang berhubungan dengan ketangkasan, kompetisi, dan kekuatan yang dimiliki.

Laki-laki dan perempuan berbeda dalam menghendel masalah emosi masing-masing. Hal yang rawan bagi laki-laki ialah laki-laki cenderung mempertahankan ego dan harga diri mereka, dan tidak kuat dikritik istri secara terus menerus, bersikap membisu atau defensif. Hal yang rawan bagi perempuan cenderung emosional, suka mengkritik dan menangis. Sikap yang berbeda tersebut kerapkali memicu pertengkaran apabila tidak memiliki kecerdasan emosi untuk mengerti perasaan masing-masing pasangan.

Perbedaan pendapat, pertengkaran, percekcokan, perselisihan yang terus menerus menyebabkan hilangnya rasa cinta dan kasih sayang. Pertengkaran hanya menyebabkan bersemainya rasa benci dan buruk sangka terhadap pasangan. Pertengkaran yang meluap-luap akan menyebabkan hilangnya rasa percaya dan terus memicu perceraian. Sementara perselisihan yang berakhir dengan baik dengan menyadari dan mengetahui perasaan masing-masing, bersikap empati dan mau memaafkan kesalahan pasangannya.

Penyebab perceraian juga dipicu maraknya pernikahan di bawah umur. Pernikahan di bawah umur membuat mereka belum siap mengatasi pernik-pernik pertikaian yang mereka jumpai. Pernikahan adalah memerlukan kesatuan tekad, kepercayaan dan penerimaan dari setiap pasangan menjalani mahligai perkawinan. Ketidaksiapan pasangan tentu berhubungan dengan tingkat kedewasaan, mengatasi persoalan yang terkait dengan kehidupan, seperti keuangan, hubungan kekeluargaan, pekerjaan setiap pasangan. Cara mereka berpikir, bertindak menentukan cara mereka mengambil keputusan dalam hidup. Menikah di bawah umur yang disertai pendidikan rendah menyebabkan tidak dewasa.

Mengatasi Perselisihan

Bagaimana mengelola perselisian yang berakhir dengan baik?. Setiap pasangan bagaikan musuh dalam selimut (intimate enemous). Suami istri adalah dua pribadi yang berbeda, dan berusaha hidup selaras dalam keutuhan rumah tangga. Untuk itu dibutuhkan banyak rasa saling mengerti perasaan pasangan. Hal ini dilakukan dengan cara :

Pertama, menenangkan diri dilakukan guna meredam emosi impulsif. Menenangkan diri dilakukan dengan cara, misalnya relaksasi, yoga, bersilaturrahmi, mendatangi tempat-tempat rekreasi, mengheningkan diri dalam doa-doa, berdzikir (mengingat Allah SWT), melakukan shalat sunnah, dan membaca al-Qur’an (kitab suci). Menenangkan diri juga akan menenangkan jiwa-jiwa yang gelisah, membersihkan racun-racun emosi yang membajak hati. Dengan menenangkan diri membuat orang sejenak merenung dan mencari inspirasi serta mendengarkan kata hati. Orang yang tenang tidak akan mudah terbawa emosi pertengkaran. Sebaliknya, dengan menenagkan diri, akan mengakhirkan perselisihan dengan menyadari kesalahan masing-masing.

Kedua, dilaog batin dilakukan dengan berbicara dengan batin, mengenai apa yang diinginkan dan mengapa keinginan itu tidak terpenuhi serta bagaimana mengatasi realitas menurut diri. Dialog batin perlu dilakukan guna membersihkan pikiran-pikiran irasional. Dialog batin dengan mendengarkan hati nurani dan akal pikiran akan menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh pasangan.

Ketiga, mintalah nasehat perkawinan. Setiap pasangan perlu mencari penasehat untuk membantu mengatasi persolan rumah tangga yang sudah akut. Mendatangi para tokoh agamawan, para guru, atau para konselor perkawinan akan membantu mencari alternatif dari perselisihan yang dihadapi. Nasehat perkawinan juga bisa dilakukan dengan membaca buku-buku yang berguna tentang hakekat perkawinan dan tujuan hidup pasangan. Nasehat perkawinan juga diperoleh dari contoh atau teladan para keluarga sejahtera, misalnya dengan cara saling berkunjung dan bertukar pengalaman dengan sesama teman atau sahabat dalam mengatasi konflik rumah tangga. Nasehat perkawinan yang diperoleh dari teman, sahabat atau ahli akan menguatkan kembali jiwa yang krisis. Nasehat perkawinan bisa menjadikan tempat konsultasi para pasangan yang tengah berkonflik.

Keempat, mendengar dan berbicara secara terbuka dengan pasangan. Saling mendengarkan keluhan pasangan, mencoba memahami jalan pikiran masing-masing akan membuat saling pengertian. Mendengarkan pasangan adalah perlu dalam sebuah relasi keluarga. Setiap orang ingin didengarkan oleh pasangan tentang kerisauan-kerisauan mereka yang bergejolak. Saling berbicara secara terbuka tentang masalah yang jumpai oleh setiap pasangan, bukan membicarakan tentang kepribadian. Karena kepribadian tidak bisa di rubah. Membicarakan kepribadian negatif masing-masing hanya akan memicu setiap pasangan menjadi merasa ditolak, tidak dicintai dan dipersalahkan. Untuk itu dalam membicarakan perlu mempertimbangkan, apakah hal yang dibicarakan tidak menyinggung kepribadian (baca:bawaan) pasangan?. Bagaimana perasaan pasangan apabila saya mengatakan hal ini?. Jika setiap pasangan mampu menimbang rasa maka akan terjadi pembicaraan yang terbuka, penuh rasa percaya dan meningkatkan rasa cinta. Indah bukan?


Seni Berbicara dengan Bayi

September 29, 2008

Seni Berbicara dengan Bayi
 
Berikut ini panduan seni berbicara dengan bayi untuk 
mengembangkan kemampuan berbicaranya:
 
1. Memperkenalkan Nama Benda 

Perkenalkan segala sesuatu di sekitar kita kepada bayi. Ini bisa dimulai dengan yang sederhana, seperti wajah kita. Yuk, ajak tangan bayi menjelajahi wajah kita. Sambil menyentuh setiap bagiannya, sebutkan mana mata, hidung, mulut, telinga, dan lain-lain. Lalu, lanjutkan dengan anggota tubuh. Lebih jauh lagi, perkenalkan bayi pada nama-nama benda di sekitarnya; bola, meja, kursi, kotak. Perkenalkan pula si kecil pada pohon, mobil, kucing, anjing, dan aneka obyek di luar rumah. 

2. Menjadi Pendengar 
Meski bayi belum mampu mengungkapkan keinginan atau gagasan lewat kata-kata yang jelas, sebaiknya mulailah ”mendengarkan” setiap ia ”mengungkapkan” sesuatu. Jadilah pendengar aktif. Usahakan mengira-ngira apa yang ingin bayi ungkapkan. Lalu, berikan respon. Misal, ”Oh, bagus sekali!” atau ”Apa betul?” Ajak pula bayi berdialog, meski ia hanya akan merespon dengan gumaman, gerakan, senyum atau bahasa tubuh lainnya. 

3. Memperkenalkan Konsep 
Segala sesuatu di sekitar bayi merupakan hal baru baginya. Nah, kewajiban kitalah mengenalkannya kepada bayi melalui berbagai konsep, eperti konsep panas-dingin, naik-turun, masuk-keluar, kosong-penuh, berdiri-duduk, basah-kering serta besar-kecil. Pengenalan konsep dasar ini bisa dilakukan sesederhana mungkin. Dan, bisa didapat dari peristiwa sehari-hari di sekitar bayi. Misal, saat menggantikan popok, kita bisa memberitahukan padanya, ”Popokmu basah kena pipis. Nah, sekarang Mama ganti dengan popok yang kering.” 

4. Menjelaskan Sebab-Akibat 
Konsep sebab-akibat juga perlu diperkenalkan, mengingat bayi sedang giat mempelajari segala sesuatu. Kita bisa mulai dengan menjelaskan berbagai fungsi dan sebab-akibat bekerjanya benda di rumah. Misal, tombol lampu. ”Kalau tombol ini Mama tekan ke atas, lampu akan menyala dan ruangan jadi terang. Tetapi kalau ditekan ke bawah, lampu padam dan ruangan jadi elap.” 
Tentu saja tak cuma benda mati. Sebab-akibat pada perasaan orang juga bisa diperkenalkan. Contoh, ”Mama sedih kalau kamu nggak mau makan”. Ini akan mengasah kepekaan bayi. 

5. Memperkenalkan Warna 
Warna-warni bisa ditunjukkan sambil memperkenalkan benda dan segala sesuatu di sekitar bayi. Misal, ”Itu balon, Nak. Warnanya merah, seperti bajumu.” 

6. Mengulangi Kata-Kata 
Agar bayi mampu mengingat lebih tajam segala sesuatu yang diperkenalkan padanya, sebaiknya kata-kata yang diperkenalkan selalu diulang-ulang. Misal, ”Pintar, makannya sudah habis. Haaabiiis.” 

7. Memperkenalkan Kata yang Benar 
Hindari penggunaan kata-kata yang dipermudah atau dicadel-cadelkan, seperti ”mamam” untuk makan, ”mimik” untuk minum, atau lainnya. Gunakan kata-kata yang benar. Karena, ini membantu bayi memahami konsep dengan benar. 

8. Perkenalkan Kata Ganti 
Walau bayi belum bisa menggunakan kata ganti, tak ada salahnya mulai memperkenalkannya. Beritahu pula konsep kepemilikan. Misal, ”Ini kue untuk Adek, untuk kamu,” atau ”Ini punya Mama, punya saya”. 

9. Memacu Respons 
Banyak cara memancing bayi agar merespons atau menjawab pertanyaan kita. Misal, memberi berbagai pilihan dan meminta bayi memilih salah satu, ”Mau pakai baju merah atau kuning?” Atau, bisa juga meminta bayi menunjukkan atau mengambil benda yang kita tanyakan, ”Coba, yang mana boneka Laa Laa?” 

10. Hindari Pemaksaan 
Jika bayi cuma menjawab dengan ekspresi atau bahasa tubuh, bantulah dengan memberi pilihan. Misal, ”Ari mau pilih bola atau boneka?” Kalau kata-katanya tetap tak keluar, komentari pilihannya, ”Oh, Ari pilih bola, ya?” Hindari pemaksaan bila bayi tetap tak mau bicara. Bersabar dan teruslah berlatih. 

11. Menyederhanakan 
Arahan yang rumit bisa membingungkan bayi. Jadi, sampaikanlah arahan verbal satu per satu. Misal, ”Tolong ambilkan bola.” Tunggu sampai bayi melakukannya, baru lanjutkan, ”Nah, sekarang berikan pada Mama.” Beri pujian bila ”tugas” itu dilakukan dengan baik, agar bayi tahu bahwa yang dilakukannya benar. 

12. Hati-hati Memperbaiki 
Kekeliruan berbahasa karena keterbatasan artikulasi bayi bisa mulai diperbaiki secara hati-hati. Ungkapan ”..bil!” untuk ”mobil”, dapat langsung diperbaiki lewat jawaban ”Pintar, itu mobil”. Tak perlu mengulang-ulang kesalahan ucapan bayi. Sebetulnya ia sudah mengetahui ucapan yang seharusnya keluar. 

13. Membaca Bersama 
Perkenalkan bayi pada buku bacaan bergambar yang memiliki kalimat berirama dan sederhana seperti pantun. Ajaklah ia bersama-sama mengucapkan dan menunjukkan gambar-gambarnya. Misal ”Gajah bermain bola.” Mintalah bayi menunjukkan mana gajah dan mana bola. Lakukanlah ini sesering mungkin. Lama-lama bayi akan akrab dengan kata-kata di buku tersebut dan tertarik untuk belajar lebih banyak lagi. 

14. Mengenalkan Angka 
Ini bukan pelajaran berhitung, melainkan sekedar mengenal angka satu dan lainnya sambil bermain. Misal, ”Adik boleh ambil satu kue. Saa-tuu…” (sambil memperlihatkan jari kita menunjukkan ‘’satu”). Atau, 
”Ambil mainan, yang baaa-nyaak.” Menghafal angka juga sudah bisa dilakukan. Sambil naik tangga atau memasukkan mainan ke dalam boks, kita membilang, ”Satu, dua, tiga…” 

15. Menyanyi 
Menyanyi adalah cara mudah ”merekamkan” beragam kosakata di benak bayi. Kelak, begitu mendengar potongan melodi dan irama lagu tersebut, rekaman itu akan keluar dengan sendirinya dari mulut bayi. 

(sumber: klinikpria.com) 


Cerita Sex dan Cerita Dewasa

September 29, 2008

   

get money from internet

get money from internet

Cerita Sex dan Cerita Dewasa  

Percaya atau tidak, yang pasti ada hal menarik yang kami dapatkan dari data dashboard blog http://coret2an.wordpress.com/

Awalnya kami kurang yakin dengan apa yang tertulis dalam data dashboard coret2an wordpress tersebut, yaitu bahwa orang-orang menemukan blog http://coret2an.wordpress.com/ melalui search engine dengan keyword Cerita Seks, cerita seks, cerita sex, cerita dewasa, telanjang, bugil, perawan, sex abg,…. hmm menarik dan kami agak surprise dengan fenomena ini.

Berikut data-datamya :

TOP Post & Page

Today
Cerita Sex dan Cerita Dewasa                           183 Views
Cerita Dewasa itu Lucu                                     67 Views
Telanjang Bugil Perawan SEX ABG                     67 Views
Lirik lagu Nidji – Laskar Pelangi                        66 Views
Cari Pembantu Rumah Tangga                          56 Views
Ukuran Penis Ditentukan dari Kebiasaan            54 Views
Memperbesar Payudara Tanpa Operasi             50 Views
Julia Perez                                                        49 Views
Sunat khitan dan Ukuran Penis                           46 Views
Lepas Bra & Pijat Payudara Demi Kese             45 Views
10 keyword populer di Indonesia tahun 2008    302 Views

Yesterday
Cerita Sex dan Cerita Dewasa                          195 Views
Julia Perez                                                             87 Views
Lirik lagu Nidji – Laskar Pelangi                          72 Views
Telanjang Bugil Perawan SEX ABG                   71 Views
Periksa Payudara Sendiri, Yuk!                           69 Views
Ukuran Penis Ditentukan dari Kebiasaan           66 Views
10 keyword populer di Indonesia tahun 20            59 Views
Sunat khitan dan Ukuran Penis                               59 Views
Merawat Payudara Tetap Indah, Sel Aktif              48 Views
Merawat Payudara Selama Kehamilan                  38 Views

Search Engine Terms

Keyword :

Top Searches
cerita seks
cerita sexs
cerita sex
cerita dewasa
telanjang
bugil
perawan
sex abg
julia peres
dewi persik
sandra dewi

Ternyata apa yang selama ini kami baca melalui beberapa pemberitaan di internet dan obrolan kanan kiri, bahwa banyak sekali pengguna internet yang menghabiskan waktunya ber internet ria hanya untuk melihat dunia syur, dunia remang-remang, dunia gemerlap, tubuh tubuh sexy, gambar wanita tanpa busana di internet. Membaca cerita dewasa, cerita panas, cerita porno di internet menjadi suatu kebiasaan yang ternyata mempunyai penggemar yang sangat besar jumlahnya.

Keywords yang sangat powerful
Melihat fenomena tersebut, banyak internet marketer, blogger, webmaster yang memanfaatkan kegilaan & kegemaran pengguna internet tersebut, yaitu dengan menggunakan keyword-keyword sakti seperti dunia malam, cerita dewasa, cerita seks, sex, spg, perawan, abg, maria ozawa, telanjang, bugil, tante girang, nafsu birahi, oh mama, tante nakal, perempuan nakal, dan lain-lainnya, yang masih berhubungan dengan dunia remang-remang dalam artikel blog atau web nya. Keyword tersebut digunakan sebagai keyword dalam content  web atau blog nya agar terbaca oleh search engine dan yang pasti akan mengundang pengguna internet agar datang ke website atau blognya.

Trafik web atau blog tinggi, selalu menguntungkan ?
Siapa sih web master, blogger atau internet marketer yang tidak ingin web atau blog nya dikunjungi orang ? siapapun ingin web atau blognya dikunjungi banyak orang, dibaca banyak orang, dicari banyak orang, sehingga web atau blognya lebih dikenal tentunya. Pertanyaan selanjutnya, apakah web atau blog yang banyak dikunjungi akan menghasilkan profit bagi pemiliknya ? Tentu saja belum tentu, tergantung siapa yang datang berkunjung.

contoh :
Sebuah website Training HRD, misalkan dalam usaha meningkatkan trafik menggunakan keyword, bugil, telanjang, dunia malam, remang-remang jakarta, julia peres,  sandra dewi, dewi persik, angelina jolie, saritem, cerita seks. sim salabim, ternyata jumlah pengunjungnya meningkat tajam hingga 1500%, Hebat ! tetapi apakah terjadi sales ? apakah sales juga meningkat ? belum tentu ! karena karakter dan need pengunjung berbeda dengan produk yang ditawarkan. Tidak terjadi sales !  dengan cara ini web training HRD itu hanya mendapatkan dua keuntungan, yaitu pertama, web Training HRD nya lebih di kenal, kedua pengunjungnya pun meningkat, hanya itu.

Untuk meningkatkan trafik dan meningkat sales, seharusnya digunakan keyword yang lebih sesuai dengan target marketnya, misalkan web training hrd tersebut menggunakan keyword HRD Forum, forum hrd, PHK, cara menghitung pesangon, gaji, cuti, struktur gaji, tugas personalia, job description, diskusi hrd, diskusi-hrd@yahoogroups.com, serikat pekerja, undang-undang tenaga kerja, uu 13, uu 13 tahun 2003, labor law, jamsostek, personalia profesional, kpi, training centre, dll ; jika digunakan keyword tersebut, akan didapatkan tiga keuntungan yaitu, ngetop, trafik tinggi, dan yang sangat penting terjadi sales !

Apakah ada keyword lain ? selain cerita dewasa, cerita seks ?
Hasil kumpul-kumpul dengan beberapa praktisi internet marketer, blogger dan webmaster, diketahui bahwa bukan hanya keyword-keyword tersebut saja yang diminati pengguna internet, tetapi masih banyak keyword-keyword lainnya, seperti adsense, bisnis, gratis, free, free download, free template, duit internet, bisnis pulsa, kaya mendadak, training hr, training HRD, phk, gaji, lowongan kerja, vacancy, atau nama-nama artis atau tokoh terkenal seperti angelina jolie, salma hayek, jolie, tom cruise, bush, osama dan lain-lain. Selain keyword tersebut, banyak marketer internet memanfaatkan kejadian yang menjadi perhatian dunia, dan menjadikannya keyword, seperti iraq war, sadam, saddam husein, palin, obama, bom bali, iran, nuklir, bomb, palin, obama, dan lain-lain.

Meningkatkan Hits

Banyak cara dan usaha untuk meningkatkan Hits, cara termudah adalah dengan menggunakan keyword yang sedang populer. Jika kita ingin web/blog kita dikunjungi oleh orang-orang Indonesia, maka carilah keyword yang sedang digemari di Indonesia, jika kita ingin mencari keyword yang sedang trends di Amerika, maka gunakan keyword yang sedang digandrungi orang-orang bule di USA sana. Caranya ? itu gampang, pakai saja Google Trends atau Google Insights.

Untuk lebih lengkapnya, pelajari SEO, promosi secara online maupun offline, dan masih banyak cara untuk meningkatkan Hits. Dengan meningkatkan Hits, blog atau web kita akan banyak dikunjungi oleh target market kita.

Kreativitas
Dari tulisan ini kita sebenarnya dapat menarik kesimpulan, bahwa untuk mendatangkan pengunjung ke website atau blog kita, untuk meningkatkan hits sekaligus meningkatkan sales, dituntut kreativitas yang tinggi, jadi tidak hanya dengan menggunakan keyword berbau mesum saja seperti cerita seks, cerita dewasa, porno, bugil dll, tetapi juga memanfaatkan keterkenalan tokoh atau peristiwa hangat. mudah-mudahan tulisan ini dapat menambah pengetahuan pembaca, terima kasih.

(Prabu CB)

 
last updated 17 oct 2008

Sakit Kuning Pada Bayi

September 29, 2008

Jaundice adalah warna kekuningan yang didapatkan pada kulit dan lapisan mukosa (seperti bagian putih mata) sebagian bayi baru lahir.1 Dalam bahasa Indonesia hal ini lebih sering disebut sebagai ‘bayi kuning’ saja. Istilah lain yang kadang digunakan adalah ikterik. Hal ini dapat terjadi pada bayi dengan warna kulit apapun.2  

Bagaimana jaundice terjadi?

 

Warna kekuningan terjadi karena penumpukan zat kimia yang disebut bilirubin.2 Sel darah merah manusia memiliki waktu hidup tertentu. Setelah waktu hidupnya selesai, sel darah merah akan diuraikan menjadi beberapa zat, salah satunya bilirubin.1 Bilirubin ini akan diproses lebih lanjut oleh hati untuk kemudian dibuang sebagai empedu. Pada janin, tugas tersebut dapat dilakukan oleh hati ibu.2 Setelah lahir, tugas tersebut harus dilakukan sendiri oleh hati bayi yang belum cukup siap untuk memproses begitu banyak bilirubin sehingga terjadilah penumpukan bilirubin.1  
  

Apakah jaundice berbahaya?

Sebagian besar jaundice tidak berbahaya. Namun pada situasi tertentu di mana kadar bilirubin menjadi sangat tinggi, kerusakan otak dapat terjadi.2 Hal ini terjadi karena walaupun secara normal bilirubin tidak dapat melewati pembatas jaringan otak dan aliran darah, pada kadar yang sangat tinggi pembatas tersebut dapat ditembus sehingga bilirubin meracuni jaringan otak.3 Keadaan akut pada minggu-minggu awal pasca kelahiran di mana terjadi gangguan otak karena keracunan bilirubin ini disebut sebagai ‘acute bilirubin encephalopathy’.4 Bila keadaan tersebut tidak diatasi, kerusakan otak dapat berlanjut menjadi kronik dan permanen menjadi suatu kondisi yang disebut ‘kernicterus’. Inilah alasan mengapa bayi baru lahir harus diperiksa dengan teliti untuk menilai ada tidaknya jaundice dan ditangani secara tepat jika ditemukan adanya jaundice.2
Bilirubin juga dapat menjadi sangat tinggi pada infeksi yang berat, penyakit hemolisis autoimun (penghancuran sel darah merah oleh sistem kekebalan tubuh sendiri), atau kekurangan enzim tertentu. 

Bagaimana penilaian jaundice dilakukan?

 

Penilaian jaundice dilakukan pada bayi baru lahir berbarengan dengan pemantauan tanda-tanda vital (detak jantung, pernapasan, suhu) bayi, minimal setiap 8-12 jam.4 Salah satu tanda jaundice adalah tidak segera kembalinya warna kulit setelah penekanan dengan jari. Cara menilai jaundice membutuhkan cahaya yang cukup, misalnya dengan kadar terang siang hari atau dengan cahaya fluorescent.2 Jaundice umumnya mulai terlihat dari wajah, kemudian dada, perut, lengan, dan kaki seiring dengan peningkatan kadar bilirubin. Bagian putih mata juga dapat tampak kuning. Jaundice lebih sulit dinilai pada bayi dengan warna kulit gelap. Karena itu penilaian jaundice tidak dapat hanya didasarkan pada pengamatan visual. Jika ditemukan tanda jaundice pada 24 jam pertama setelah lahir, pemeriksaan kadar bilirubin harus dilakukan. Demikian pula jika jaundice tampak terlalu berat untuk usia tertentu bayi atau ada keraguan mengenai beratnya jaundice dari pengamatan visual.
Pemeriksaan kadar bilirubin dapat dilakukan melalui kulit (TcB: Transcutaneus Bilirubin) atau dengan darah (TSB: Total Serum Bilirubin).4 Kadar bilirubin yang diperoleh dari pemeriksaan ini dapat menggambarkan besar kecilnya risiko yang dihadapi si bayi, seperti terilustrasikan pada nomogram 1.

Bagaimana membedakan berbagai jenis jaundice?

 

Jaundice fisiologis (normal) dapat terjadi pada 50% bayi baru lahir.5 Tipe jaundice ini umumnya diawali pada usia 2-3 hari, memuncak pada hari 4-5, dan menghilang dengan sendirinya pada usia 2 minggu.
Jaundice karena ketidakcocokan rhesus atau golongan darah ibu dan bayi umumnya terjadi dalam 24 jam pertama setelah lahir.5 Tipe jaundice ini memiliki risiko besar untuk mencapai kadar bilirubin yang sangat tinggi. 
Ketidakcocokan rhesus ibu dan janin dapat terjadi jika ibu memiliki rhesus negatif sementara si janin memiliki rhesus positif. Di Indonesia, hal ini relatif jarang terjadi karena sebagian besar penduduk Indonesia memiliki rhesus positif. Di negara dengan proporsi rhesus negatif yang relatif besar, beberapa pemeriksaan dilakukan untuk mempersiapkan ibu dan bayi menghadapi kemungkinan ketidakcocokan rhesus. Setiap ibu hamil menjalani pemeriksaan golongan darah dan tipe rhesus.4 Jika pemeriksaan tersebut tidak dilakukan dalam kehamilan atau jika ibu memiliki rhesus negatif, maka saat kelahiran dilakukan pemeriksaan pada darah bayi untuk mengetahui golongan darah, rhesus, dan ada tidaknya antibodi yang dapat menyerang sel darah merah bayi. 
 

Apakah ASI berhubungan dengan jaundice?

Jaundice lebih sering terjadi pada bayi yang memperoleh ASI dibanding bayi yang memperoleh susu formula. Ada dua macam jaundice yang dapat terjadi sehubungan dengan ASI:

  • Breastfeeding jaundice (5-10% bayi baru lahir)5: Hal ini terjadi pada minggu pertama setelah lahir pada bayi yang tidak memperoleh cukup ASI.6 Bilirubin akan dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk empedu yang dialirkan ke usus. Selain itu, empedu dapat terurai menjadi bilirubin di usus besar untuk kemudian diserap kembali oleh tubuh. Jika bayi tidak memperoleh cukup ASI, gerakan usus tidak banyak terpacu sehingga tidak banyak bilirubin yang dapat dikeluarkan sebagai empedu. Dan bayi yang tidak memperoleh cukup ASI tidak mengalami buang air besar yang cukup sering sehingga bilirubin hasil penguraian empedu akan tertahan di usus besar dan diserap kembali oleh tubuh.7 Selain itu kolostrum yang banyak terkandung pada ASI di hari-hari awal setelah persalinan memicu gerakan usus dan BAB. Karena itu, jika Anda menyusui, Anda harus melakukannya minimal 8-12 kali per hari dalam beberapa hari pertama.4 Dan penting untuk diperhatikan bahwa tidak pernah ada alasan untuk memberikan air atau air gula pada bayi untuk mencegah kenaikan bilirubin.

      Untuk menilai apakah bayi telah memperoleh asupan ASI yang cukup, ada beberapa hal yang dapat diperhatikan:4

  •  
    • Bayi yang memperoleh ASI tanpa suplemen apapun akan mengalami berkurangnya berat badan maksimal (< 10% berat lahir) pada usia 3 hari. Jika berat badan bayi berkurang ≥ 10% berat lahir pada hari ketiga, kecukupan ASI harus dievaluasi.
    • Bayi yang memperoleh cukup ASI akan BAK dengan membasahi seluruh popoknya 4-6 kali per hari dan BAB 3-4 kali pada usia 4 hari. Pada usia 3-4 hari, feses bayi harus telah berubah dari mekonium (warna gelap) menjadi kekuningan dengan tekstur lunak.   
  • Breastmilk jaundice (1% bayi baru lahir): Hal ini terjadi dalam akhir minggu pertama atau awal minggu kedua setelah lahir.6 Sebagian kecil ibu memiliki suatu zat dalam ASI mereka yang dapat menghambat pengolahan bilirubin oleh hati.6,7 Keadaan ini tidak memerlukan penghentian pemberian ASI karena tipe jaundice ini ringan dan sama sekali tidak pernah menimbulkan kernicterus atau bahaya lainnya. Tipe jaundice ini hanya memiliki sedikit sekali kenaikan bilirubin dan akan menghilang seiring dengan makin matangnya fungsi hati bayi pada usia 3-10 minggu. Secara umum, jaundice karena sebab apapun tidak pernah merupakan alasan untuk menghentikan pemberian ASI.   

Kapan bayi harus diperiksa setelah meninggalkan RS/RB?

 

Sebelum meninggalkan RS/RB, risiko bayi mengalami hiperbilirubinemia harus dinilai. Penilaian ini oleh American Academy of Pediatrics disarankan dengan melakukan pengukuran kadar bilirubin (TSB atau TcB), penilaian faktor risiko, atau keduanya. Yang merupakan faktor risiko adalah:4

Faktor risiko mayor:

  • TSB atau TcB di high-risk zone
  • Jaundice dalam 24 jam pertama
  • Ketidakcocokan golongan darah atau rhesus
  • Penyakit hemolisis (penghancuran sel darah merah), misal: defisiensi G6PD yang dibutuhkan sel darah merah untuk dapat berfungsi normal
  • Usia gestasi 35-36 minggu
  • Riwayat terapi cahaya pada saudara kandung
  • Memar yang cukup berat berhubungan dengan proses kelahiran, misal: pada kelahiran yang dibantu vakum
  • Pemberian ASI eksklusif yang tidak efektif sehingga tidak mencukupi kebutuhan bayi, ditandai dengan penurunan berat badan yang berlebihan
  • Ras Asia Timur, misal: Jepang, Korea, Cina

Faktor risiko minor:

  • TSB atau TcB di high intermediate-risk zone
  • Usia gestasi 37-38 minggu
  • Jaundice tampak sebelum meninggalkan RS/RB
  • Riwayat jaundice pada saudara sekandung
  • Bayi besar dari ibu yang diabetik
  • Usia ibu ≥ 25 tahun
  • Bayi laki-laki

Jika tidak ditemukan satu pun faktor risiko, risiko jaundice pada bayi sangat rendah.
Pemeriksaan bayi pertama kali setelah meninggalkan RS/RB adalah pada usia 3-5 hari karena pada usia inilah umumnya bayi memiliki kadar bilirubin tertinggi.4 Secara detail, jadwal pemeriksaan bayi setelah meninggalkan RS/RB adalah sebagai berikut:

  • Jika bayi meninggalkan RS/RB < usia 24 jam à pemeriksaan pada usia 72 jam (3 hari)
  • Jika bayi meninggalkan RS/RB pada usia antara 24 – 47,9 jam à pemeriksaan pada usia 96 jam (4 hari)
  • Jika bayi meninggalkan RS/RB pada usia antara 48 – 72 jam à pemeriksaan pada usia 120 jam (5 hari)

Pemeriksaan yang dilakukan harus meliputi:4

  • Berat badan bayi dan perubahan dari berat lahir
  • Kecukupan asupan ASI/susu formula
  • Pola BAK dan BAB
  • Ada tidaknya jaundice

Jika ada keraguan mengenai penilaian derajat jaundice, pemeriksaan kadar bilirubin harus dilakukan.4 Jika ada satu atau lebih faktor risiko, pemeriksaan setelah meninggalkan RS/RB dapat dilakukan lebih awal.
Selain pemeriksaan kadar bilirubin, penyebab jaundice juga harus dicari.4 Misalnya dengan memeriksa kadar bilirubin terkonjugasi dan tidak terkonjugasi, melakukan urinalisis dan kultur urin jika yang meningkat terutama adalah kadar bilirubin terkonjugasi, melakukan pengukuran kadar enzim tertentu jika ada riwayat serupa dalam keluarga atau bayi menunjukkan tanda-tanda spesifik.

Bagaimana jaundice ditangani?

 

Sebagian besar jaundice adalah keadaan fisiologis yang tidak membutuhkan penanganan khusus selain dilanjutkannya pemberian ASI yang cukup. Namun pada keadaan tertentu, jaundice memerlukan terapi khusus yaitu terapi cahaya atau exchange transfusion.

Terapi cahaya

Perlu tidaknya terapi cahaya ditentukan dari kadar bilirubin, usia gestasi (kehamilan) saat bayi lahir, usia bayi saat jaundice dinilai, dan faktor risiko lain yang dimiliki bayi, seperti digambarkan pada grafik 2.4

 

Beberapa faktor risiko yang penting adalah

  • Penyakit hemolisis autoimun (penghancuran sel darah merah oleh sistem kekebalan tubuh sendiri)
  • Kekurangan enzim G6PD yang dibutuhkan sel darah merah untuk berfungsi normal
  • Kekurangan oksigen
  • Kondisi lemah/tidak responsif
  • Tidak stabilnya suhu tubuh
  • Sepsis (keadaan infeksi berat di mana bakteri telah menyebar ke seluruh tubuh)
  • Gangguan keasaman darah
  • Kadar albumin (salah satu protein tubuh) < 3.0 g/dL

Pada bayi yang menerima ASI yang harus menjalani terapi cahaya, pemberian ASI dianjurkan untuk tetap dilakukan. Namun ASI juga dapat dihentikan sementara untuk menurunkan kadar bilirubin dan meningkatkan efek terapi cahaya.
Selama terapi cahaya, beberapa hal ini perlu diperhatikan:

  • Pemberian ASI atau susu formula setiap 2-3 jam
  • Jika TSB ≥25 mg/dL, ulangi pengukuran dalam 2-3 jam
  • Jika TSB 20–25 mg/dL, ulangi pengukuran dalam 3-4 jam
  • Jika TSB <20 mg/dL, ulangi pengukuran dalam 4-6 jam
  • Jika TSB terus menurun, ulangi pengukuran dalam 8-12 jam
  • Jika TSB tidak menurun atau meningkat menuju batas perlunya exchange transfusion, pertimbangkan exchange transfusion

Pada penyakit hemolisis autoimun, pemberian {gamma}-globulin (gamma globulin) direkomendasikan jika TSB tetap meningkat dengan terapi cahaya atau TSB berada 2-3 mg/dL dari batas perlunya exchange transfusion. Pemberian ini dapat diulangi dalam 12 jam. Pemberian {gamma}-globulin dapat menghindari perlunya exchange transfusion pada bayi dengan ketidakcocokan rhesus atau golongan darah.  
Penghentian terapi cahaya ditentukan oleh usia bayi saat dimulainya terapi tersebut, kadar bilirubin, dan penyebab jaundice. Pada bayi yang diterapi cahaya setelah sempat dipulangkan dari RS/RB pasca kelahiran, terapi cahaya umumnya dihentikan jika kadar bilirubin sudah di bawah 13-14 mg/dl. Pengukuran ulang bilirubin setelah 24 jam penghentian terapi direkomendasikan terutama pada bayi dengan penyakit hemolisis atau bayi yang menyelesaikan terapi cahaya sebelum usia 3-4 hari. 

Exchange transfusion

Penanganan khusus lainnya yang mungkin diperlukan pada bayi dengan jaundice adalah exchange transfusion. Exchange transfusion adalah tindakan di mana darah pasien diambil sedikit demi sedikit dengan meningkatkan volume pengambilan pada setiap siklusnya, untuk kemudian digantikan dengan darah transfusi dengan jumlah yang sama. Panduan exchange transfusion ini dapat dilihat pada grafik 3.

Cara membaca kurva pada grafik ini sama dengan kurva pada grafik panduan terapi cahaya. Exchange transfusion dilakukan dengan segera pada bayi dengan gejala ’acute bilirubin encephalopathy’ seperti meningkatnya ketegangan otot, meregangnya bayi dengan posisi seperti busur, demam, tangisan dengan nada tinggi, atau jika TSB ≥ 5 mg/dl di atas kurva yang sesuai.
Jika kadar TSB berada pada level di mana exchange transfusion dibutuhkan atau ≥ 25 mg/dl, hal ini adalah keadaan gawat darurat dan harus segera ditangani.  
(NIH)

Sumber

  • www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001559.htm
  • http://www.aap.org/family/jaundicefaq.htm
  • http://www.cdc.gov/ncbddd/dd/kernicterus2.htm
  • http://pediatrics.aappublications.org/cgi/content/full/114/1/297
  • http://www.lpch.org/HealthLibrary/ParentCareTopics/NewbornQuestions/
    JaundicedNewborn.html
  • http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003243.htm
  • http://www.breastfeedingbasics.com/html/jaundice.shtml

dr. Nurul Itqiyah H


Penyakit kulit Bayi

September 29, 2008

Penyakit kulit Bayi

 

1.    Definisi
Penyakit kulit adalah suatu penyakit yang berhubungan dengan jaringan penutup permukaan tubuh, seperti kulit yang sering terjadi dan bersifat relatif ringan. Meskipun bersifat relatif ringan, apabila tidak ditangani secara serius, maka hal tersebut dapat memperburuk kondisi kesehatan bayi dan anak.

2.    Epidemiologi
Penyakit kulit terdapat di seluruh dunia dan dapat menyerang baik laki-laki dan perempuan. Pada beberapa penyakit kulit seperti staphylococcal scalded skin syndrome, laki-laki lebih banyak terserang daripada wanita.

3.    Penyebab
Penyebab penyakit kulit, yaitu bakteri (kuman gram positif staphyllococcus, streptococcus β hemolyticus grup A), virus (Varicella Zoster Virus (VZV)), jamur (dematormikosis, kandidosis) dan infestasi oleh parasit. Selain itu gangguan hormonal, gangguan pigmentasi, kelainan yang didasari alergi-imunologi dan tumor kulit, serta kelainan sistemik yang disertai gejala kulit dapat menyebabkan terjadinya penyakit kulit tersebut. Penyebabnya bisa juga karena higiene kulit bayi kurang terawat.

4.    Patofisiologi
Higiene yang kurang dan menurunnya daya tahan tubuh menyebabkan bakteri, virus, jamur dan parasit mudah masuk ke dalam tubuh. Pada penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri dan virus, infeksi dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Sedangkan pada penyakit kulit akibat infestasi parasit seperti sarcoptes scabiei yang hidup dirambut dan bertelur disana. Siklus hidupnya melalui stadium telur, larva, nimfa dan dewasa. Kelainan kulit yang timbul akibat dari garukan gatal akibat sensitisasai terhadap sekret dan ekskret sarcoptes kurang lebih sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika, dll. Gerukan dapat menimbulkan erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder.