Mendikte Tuhan

January 16, 2009

Biasanya pada awal tahun, banyak orang membuat “resolusi” atau niatan. Tahun ini harus begini, harus begitu. Harus mendapatkan ini, harus mendapatkan itu dsb.

Tidak ada yang salah sih dengan semua keinginan dan harapan yang baik-baik. Bahkan motivator sering menyarankan agar orang harus bisa membayangkan apa yang diinginkan, dan mempunyai hasrat yang sangat-sangat mendalam, maka keinginan Anda akan terwujud.

Saya pernah mendengar seorang bijak menyebutkan “…jika semua orang bisa sukses hanya dengan membayangkan dan memimpikan sukses, maka dunia ini sudah dipenuhi dengan orang-orang sukses…”

Apa yang diajarkan oleh para motivator, sampai tahapan tertentu sama sekali tidak ada yang salah. Tetapi jika menjadikan the one and only you have to know (seperti yang diharapkan banyak generasi instan), rasanya salah besar.

Jika kita mempunyai anak, keponakan, adik-adik yang masih usia sekolah dan belum terjun ke dunia kerja, mempunyai mimpi dan cita-cita adalah sesuatu yang sangat penting karena itu akan menuntun jalan mereka mengejar dan mendekati apa yang mereka impikan dan cita-citakan. Mereka perlu bisa mem-visualisasikan apa yang diinginkan dan harus sangat-sangat ingin meraih itu.

Sampai kapan…

Menurut saya, mimpi jangan kelamaan karena nanti ga bangun-bangun.

Bagaimana bermimpi membangun pabrik mie instan dan membayangkan 3 tahun kedepan sudah mengungguli Indomie dalam penjualan.

Bagaimana bermimpi dan membayangkan suatu hari nanti mau menjadi presiden RI. Toh dalam kurun waktu 63 tahun kita baru mempunyai 6 presiden. Anggap saja hanya 1% dari penduduk Indonesia betul-betul berharap bisa menjadi presiden, dan andaikata memang betul bermimpi bisa menjadi kenyataan, itupun harus bergiliran antara 2 juta orang.

Untuk mengungguli produk-produk ternama seperti Indomie, produk-produk Unilever dan sebagainya tidak cukup hanya “sangat-sangat ingin” dan bisa “bermimpi”. Perlu skill, tekad, dan yang tidak kalah penting, kesabaran dan ketekunan untuk terus melakukan segala sesuatu dengan benar dan konsisten dan itupun belum tentu sukses kawan. Karena yang namanya kompetitor itu bukan patung yang diam saja. Apa iya perusahaan sekaliber Indofood, Unilever tidak mampu meng-hire orang pintar juga.

Tanpa bermaksud meremehkan apa yang diajarkan oleh teman-teman motivator yang sering berkoar “… kita punya kelompok mastermind, kita beli saja mal, kita hire orang lain yang mengelola, kita beli property dan kita pakai uang sewanya untuk membayar cicilannya…”. Memangnya dia Mbak Tutut atau apa?

Poinnya adalah para motivator terlalu menggampangkan masalah. Seakan-akan bahwa hanya dengan mengikuti training 3 hari kemudian sudah bisa merubah dunia, bisa kaya raya, bisa sukses dengan mudah.

Salah satu contohnya, “… tahukah Anda berapa asset Bill Gates (pendiri Microsoft), tahukah Anda pada usia berapa Sergei Brin dan Larry Page (pendiri Google) menjadi miliarder…. dan bla bla bla mengenai internet. Siapa yang ingin menyusul menjadi next miliarder lewat internet…..”

Lha, yang dijual cuma training beberapa hari membuat blog, menawarkan ebook gratis agar bisa mendapatkan email seseorang, kemudian berharap menghasilkan beberapa recehan dari jualan angin yang lain atau adSense. Yang realistis bisa didapatkan cuma recehan, tetapi yang dipajang sebagai model iklan kok Microsoft dan Google.

Packaging untuk marketing sih boleh-boleh saja. Cuma kalau kebangetan, nih… baca iklan-iklan berikut yang jebolan training miliarder instan lewat internet:

“Cara Cari Uang di Internet yang paling mudah dan cepat menghasilkan uang adalah dengan menjadi Affiliate, dan di Titlenya adalah bagaimana menghasilkan $5.700/bulan”

“…Anda berkesempatan untuk membuat uang Anda menjadi Rp.1 Milyar hanya dalam waktu 10 bulan…”

“…TERNYATA CARI UANG ITU SANGAT MUDAH
Mungkin CARA CARI UANG anda saat ini sangat membebankan hidup anda…”

Beberapa contoh diatas semua bisa dibaca di beberapa link index DetikPublishing.

Saya sungguh tidak yakin kalau yang mengiklankan itu sudah menghasilkan $5.700/bulan atau sudah sudah menghasilkan 1 miliar dalam 10 bulan. Membual sih boleh-boleh saja, tetapi kalau kebangetan kan merupakan penghinaan terhadap intelektualitas orang-orang yang bekerja dengan benar dan sungguh-sungguh. Lebih-lebih penghinaan terhadap orang tua yang membayari biaya training.

Berniat, berkaul, bernazar sah-sah saja. Tetapi dalam film “The Secret, Law of Attraction” karya Rhonda Byrne’s dan buku “The Law of Attractor” karya Joe Vitale justru menekankan pentingnya kita pasrah.

“…jika kita sangat menginginkan sesuatu, namun kita tetap nyaman tanpa memiliki itu, maka lebih besar kemungkinan kita mendapatkan itu….“

Mengapa sebagian besar doa manusia tidak dikabulkan Tuhan, karena sebagian besar doa manusia berisi permintaan. Secara implisit, permohonan atau permintaan sesuatu kepada Tuhan mencerminkan kekurangpercayaan kepada Tuhan. Kurang yakin kalau Tuhan itu tahu kalau kita menginginkan sesuatu sehingga perlu di-remind.

Bukankah dengan membut “resolusi” tahun ini harus begini, harus begitu dsb adalah bentuk lain dari ketidakpercayaan terhadap Tuhan sampai-sampai harus mendikte Tuhan.

Tuhan kok didikte…

As long as kalau itu diperlukan untuk menjaga motivasi, thats fine. Tetapi kalau sampai mendikte Tuhan, sebaiknya segera bertobat dan kembali ke jalan yang benarlah. Lagipula, apa menariknya lagi kalau hidup ini sudah terprogram sedemikian rupa tahun ini harus begini, tahun depan harus begitu dsb.

Biarkanlah hidup berjalan seperti air mengalir mencari tempat yang lebih rendah. Yang perlu kita manusia lakukan adalah selalu berbuat yang terbaik, mempasrahkan diri kepada yang kuasa, dan tetap bersyukur apapun yang kita peroleh. Beri kesempatan kepada hidup ini untuk menerima sedikit kejutan-kejutan sehingga hidup ini semakin indah dan berarti.

http://deltawhiski.wordpress.com/2008/02/22/mendikte-tuhan/

———————–

Info pelatihan bagi Praktisi HRD Indonesia, dapat di lihat di SINI


MANAJEMEN PHK VS KRISIS FINANSIAL GLOBAL

January 15, 2009

PHK dan Krisis Global

PHK dan Krisis Global

Orang lain makan nangka tetapi kita kena getahnya. Krisis finansial awalnya di negeri orang (Amerika Serikat), tetapi kita sendiri terkena akibatnya. Rasanya sangat tidak adil. Semua itu akibat dari perilaku ekonomi negara yang disebut ”maju” namun serakah. Daya beli mereka cenderung menurun. Resesi global sudah melanda di semua negara termasuk di negara-negara maju. Pasalnya pertumbuhan ekonomi terus merosot sampai titik negatif. ILO memerkirakan resesi global akan berakibat pada pengangguran yang besar yakni mencapai sekitar 20 juta orang di seluruh dunia. Dampak krisis itu sudah mulai meminta korban dalam bentuk menurunnya ekspor barang-barang Indonesia. Biang keroknya karena permintaan dari negara-negara maju yang menurun. Bahkan ada yang menghentikan kontrak pembelian terhadap produk-produk industri garmen-tekstil, kayu dan produk perkebunan. Di sisi lain diperkirakan suku bunga pinjaman dalam negeri akan semakin bergerak naik. Jelas saja cicilin pokok dan bunga kredit oleh perusahaan akan semakin berat.

Berbarengan dengan itu tuntutan karyawan perusahaan untuk menaikan upah minimum kabupaten dan kota semakin menjadi-jadi plus penolakan SK Bersama Empat Menteri. Maka bertambah lengkap dan rumitlah permasalahan yang dihadapi dunia bisnis itu. Akibat logisnya adalah pabrik perlu menurunkan kapasitas produksinya; ada yang sampai sekitar 40%. Buntutnya adalah perusahaan harus mengambil keputusan tidak populer sekaligus ”menyakitkan” yakni rasionalisasi dalam bentuk pemutusan hubungan kerja (PHK) dan merumahkan sebagian karyawannya. Hal itu terjadi antara lain di daerah pertekstilan yang kebanyakan di pulau Jawa, perkayuan di Riau dan Kalimantan yang jumlahnya mencapai puluhan ribu dan bahkan mungkin bisa ratusan ribu karyawan. Karena itu bagaimana sebaiknya PHK itu dikelola di tingkat makro dan mikro?

Di tingkat makro sebaiknya pihak-pihak terkait seperti Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Departemen Perindustrian, dan Departemen Dalam Negeri serta Gubernur Bank Indonesia dan KADIN mencari terobosan-terobosan yang sifatnya operasional baik berskala jangka pendek maupun jangka panjang. Pemerintah bersama para asosiasi perusahaan harus melakukan analisis atau audit ulang finansial dan manajemen perusahaan dalam menemukan upaya-upaya efisiensi sehingga dapat memperkecil terjadinya PHK besar-besaran. Selain itu harus sudah disiapkan bentuk program jaminan sosial termasuk pesangon yang memungkinkan para karyawan yang terkena PHK bisa berbisnis sendiri. Pengembangan usaha di sektor rill juga perlu diprioritaskan sebagai katup pengaman terjadinya pengangguran yang semakin membengkak. Pemerintah daerah dengan semangat otonomi daerahnya perlu menyiapkan peluang kerja dalam bentuk program padat karya berbagai proyek daerah. Jadi intinya jangan sampai timbulnya krisis finansial global ini mengakibatkan fenomena kemiskinan semakin meluas.

Sementara itu di tingkat mikro, perusahaan harus melakukan langkah-langkah persiapan dan pelaksanaan PHK dengan sistematis yang meliputi;

Pertama, menyiapkan segala informasi tentang kondisi kesehatan perusahaan secara jujur dan obyektif berikut penetapan besaran jaminan sosial dan pesangon yang pantas sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dicari kemungkinan jalan keluar untuk menerima kembali mereka yang terkena PHK seandainya kondisi bisnis perusahaan mulai pulih kembali. Dalam tahap ini sebaiknya pihak manajemen sudah berkonsultasi dengan pihak serikat pekerja, biro bantuan hukum perusahaan, dan biro psikologi.

Kedua, menyampaikan dan menjelaskan semua alasan terjadinya PHK ke seluruh karyawan. Tentunya hal ini cukup dilakukan oleh direksi atau manajer di tiap unit kinerja masing-masing. Pihak manajemen harus sudah siap menjawab semua persoalan yang menyangkut kondisi perusahaan dan alasan PHK.

Ketiga, pihak manajemen sebaiknya sudah siap dan tenang menghadapi berbagai keluhan dan tuntutan bahkan resistensi karyawan yang terkena PHK. Hindari adanya tindakan konfrontasi yang bisa menimbulkan konflik berkepanjangan dengan mereka. Kembalikan setiap usaha mengatasi konflik melalui jalur peraturan perundang-undangan yang berlaku dan kesepakatan kerja internal.

Keempat, menyampaikan surat keputusan tentang PHK, pesangon dan atau jaminan sosial, dengan tidak lupa menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan. Intinya benar-benar memanusiakan karyawan.

Dan kelima advokasi pelatihan dan pengembangan kewirausahaan bagi karyawan. Diharapkan para karyawan dapat menggunakan uang tersebut untuk modal bisnisnya. Hal ini penting dilakukan agar jangan sampai ada kesan ”habis manis sepah dibuang”.
source : http://ronawajah.wordpress.com
——–

Sementara itu, HRD Forum sebagai konsultan HRD dan training provider, secara konsisten selalu memberikan pelatihan bagi praktisi HRD, kali ini pada tanggal 24 Januari 2008, akan mengadakan Seminar setengah hari dengan topik ; “Tips Trik – PHK & Pesangon yang Aman Tanpa Menimbulkan Gejolak” yaitu sebuah seminar yang memberikan arahan agar dalam melakukan PHK dan Pemberian Pesangon harus sesuai dengan UU yang berlaku, untuk melihat lebih lanjut silakan klik di sini seminar ini sangat baik untuk dihadiri oleh praktisi HRD, owner, serikat pekerja dan karyawan.


Yuk, Ciptakan Sensasi di Area Klitoris!

January 4, 2009

 

Sensasi Klitoris

Sensasi Klitoris

UNTUK menundukkan wanita saat berada di atas ranjang memang tidak sulit. Selain harus pintar mengatur suasana hati si dia, Anda pun harus membuat “pertempuran” menjadi momen yang paling dinanti olehnya.

 

Salah satu cara yang membuat kaum hawa merasa lebih bergairah ialah sebuah sensasi kenikmatan foreplay dari pasangannya. Semisal merangsang pasangan di area klitoris.

Area lain yang tidak kalah hebatnya jika dirangsang ini sangat sensitif dan mampu mengantarkan wanita pada gairah orgasme. Sehingga membuat kaum hawa menunggu momen penting yang membawa mereka ke dalam “pertempuran” tak terlupakan.

Seperti dilansir dari Askmen, Minggu (4/1/2009), agar kaum adam dapat memberikan sentuhan sensual di area klitoris, diperlukan beberapa teknik memikat. Apa saja?

Dirty talk

Sebagai faktor pendukung, dirty talk (pembicaraan berbau porno) mampu memberikan pengaruh luar biasa dalam ajang bercinta. Dengan dirty talk, dijamin pasangan menjadi lebih agresif mengeksplorasikan setiap fantasi seksualnya.

Bahkan dengan dirty talk, si dia akan menikmati sensasi yang Anda berikan di area klitorisnya yang membantunya mencapai puncak kenikmatan.

Sensasi jemari dan lidah

Untuk membangkitkan gairah cinta, kaum hawa cenderung senang diberi sentuhan sensual dari jemari tangan dan lidah pasangannya.

Karena itu, kini Anda tak perlu ragu tidak bisa memuaskan hati si dia. Anda harus percaya diri menunjukkan keahlian yang selama ini dimiliki.

Gerakan memutar dan gigitan mesra

Meskipun umumnya kaum hawa selalu ingin menjadi yang terkuat dalam setiap “pertempuran”, mereka tetap menanti sensasi yang berbeda dari pasanganya.

Adapun beberapa sensai tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti gerakan memutar yang dikombinasikan dengan gigitan mesra. Dengan melakukan teknik ini, dijamin akan membuat pasangan tak sabar ingin segera memulai pertempuran.

Bagaimana, siap menaklukkan si dia? (nsa)
http://lifestyle.okezone.com/