Mendikte Tuhan

Biasanya pada awal tahun, banyak orang membuat “resolusi” atau niatan. Tahun ini harus begini, harus begitu. Harus mendapatkan ini, harus mendapatkan itu dsb.

Tidak ada yang salah sih dengan semua keinginan dan harapan yang baik-baik. Bahkan motivator sering menyarankan agar orang harus bisa membayangkan apa yang diinginkan, dan mempunyai hasrat yang sangat-sangat mendalam, maka keinginan Anda akan terwujud.

Saya pernah mendengar seorang bijak menyebutkan “…jika semua orang bisa sukses hanya dengan membayangkan dan memimpikan sukses, maka dunia ini sudah dipenuhi dengan orang-orang sukses…”

Apa yang diajarkan oleh para motivator, sampai tahapan tertentu sama sekali tidak ada yang salah. Tetapi jika menjadikan the one and only you have to know (seperti yang diharapkan banyak generasi instan), rasanya salah besar.

Jika kita mempunyai anak, keponakan, adik-adik yang masih usia sekolah dan belum terjun ke dunia kerja, mempunyai mimpi dan cita-cita adalah sesuatu yang sangat penting karena itu akan menuntun jalan mereka mengejar dan mendekati apa yang mereka impikan dan cita-citakan. Mereka perlu bisa mem-visualisasikan apa yang diinginkan dan harus sangat-sangat ingin meraih itu.

Sampai kapan…

Menurut saya, mimpi jangan kelamaan karena nanti ga bangun-bangun.

Bagaimana bermimpi membangun pabrik mie instan dan membayangkan 3 tahun kedepan sudah mengungguli Indomie dalam penjualan.

Bagaimana bermimpi dan membayangkan suatu hari nanti mau menjadi presiden RI. Toh dalam kurun waktu 63 tahun kita baru mempunyai 6 presiden. Anggap saja hanya 1% dari penduduk Indonesia betul-betul berharap bisa menjadi presiden, dan andaikata memang betul bermimpi bisa menjadi kenyataan, itupun harus bergiliran antara 2 juta orang.

Untuk mengungguli produk-produk ternama seperti Indomie, produk-produk Unilever dan sebagainya tidak cukup hanya “sangat-sangat ingin” dan bisa “bermimpi”. Perlu skill, tekad, dan yang tidak kalah penting, kesabaran dan ketekunan untuk terus melakukan segala sesuatu dengan benar dan konsisten dan itupun belum tentu sukses kawan. Karena yang namanya kompetitor itu bukan patung yang diam saja. Apa iya perusahaan sekaliber Indofood, Unilever tidak mampu meng-hire orang pintar juga.

Tanpa bermaksud meremehkan apa yang diajarkan oleh teman-teman motivator yang sering berkoar “… kita punya kelompok mastermind, kita beli saja mal, kita hire orang lain yang mengelola, kita beli property dan kita pakai uang sewanya untuk membayar cicilannya…”. Memangnya dia Mbak Tutut atau apa?

Poinnya adalah para motivator terlalu menggampangkan masalah. Seakan-akan bahwa hanya dengan mengikuti training 3 hari kemudian sudah bisa merubah dunia, bisa kaya raya, bisa sukses dengan mudah.

Salah satu contohnya, “… tahukah Anda berapa asset Bill Gates (pendiri Microsoft), tahukah Anda pada usia berapa Sergei Brin dan Larry Page (pendiri Google) menjadi miliarder…. dan bla bla bla mengenai internet. Siapa yang ingin menyusul menjadi next miliarder lewat internet…..”

Lha, yang dijual cuma training beberapa hari membuat blog, menawarkan ebook gratis agar bisa mendapatkan email seseorang, kemudian berharap menghasilkan beberapa recehan dari jualan angin yang lain atau adSense. Yang realistis bisa didapatkan cuma recehan, tetapi yang dipajang sebagai model iklan kok Microsoft dan Google.

Packaging untuk marketing sih boleh-boleh saja. Cuma kalau kebangetan, nih… baca iklan-iklan berikut yang jebolan training miliarder instan lewat internet:

“Cara Cari Uang di Internet yang paling mudah dan cepat menghasilkan uang adalah dengan menjadi Affiliate, dan di Titlenya adalah bagaimana menghasilkan $5.700/bulan”

“…Anda berkesempatan untuk membuat uang Anda menjadi Rp.1 Milyar hanya dalam waktu 10 bulan…”

“…TERNYATA CARI UANG ITU SANGAT MUDAH
Mungkin CARA CARI UANG anda saat ini sangat membebankan hidup anda…”

Beberapa contoh diatas semua bisa dibaca di beberapa link index DetikPublishing.

Saya sungguh tidak yakin kalau yang mengiklankan itu sudah menghasilkan $5.700/bulan atau sudah sudah menghasilkan 1 miliar dalam 10 bulan. Membual sih boleh-boleh saja, tetapi kalau kebangetan kan merupakan penghinaan terhadap intelektualitas orang-orang yang bekerja dengan benar dan sungguh-sungguh. Lebih-lebih penghinaan terhadap orang tua yang membayari biaya training.

Berniat, berkaul, bernazar sah-sah saja. Tetapi dalam film “The Secret, Law of Attraction” karya Rhonda Byrne’s dan buku “The Law of Attractor” karya Joe Vitale justru menekankan pentingnya kita pasrah.

“…jika kita sangat menginginkan sesuatu, namun kita tetap nyaman tanpa memiliki itu, maka lebih besar kemungkinan kita mendapatkan itu….“

Mengapa sebagian besar doa manusia tidak dikabulkan Tuhan, karena sebagian besar doa manusia berisi permintaan. Secara implisit, permohonan atau permintaan sesuatu kepada Tuhan mencerminkan kekurangpercayaan kepada Tuhan. Kurang yakin kalau Tuhan itu tahu kalau kita menginginkan sesuatu sehingga perlu di-remind.

Bukankah dengan membut “resolusi” tahun ini harus begini, harus begitu dsb adalah bentuk lain dari ketidakpercayaan terhadap Tuhan sampai-sampai harus mendikte Tuhan.

Tuhan kok didikte…

As long as kalau itu diperlukan untuk menjaga motivasi, thats fine. Tetapi kalau sampai mendikte Tuhan, sebaiknya segera bertobat dan kembali ke jalan yang benarlah. Lagipula, apa menariknya lagi kalau hidup ini sudah terprogram sedemikian rupa tahun ini harus begini, tahun depan harus begitu dsb.

Biarkanlah hidup berjalan seperti air mengalir mencari tempat yang lebih rendah. Yang perlu kita manusia lakukan adalah selalu berbuat yang terbaik, mempasrahkan diri kepada yang kuasa, dan tetap bersyukur apapun yang kita peroleh. Beri kesempatan kepada hidup ini untuk menerima sedikit kejutan-kejutan sehingga hidup ini semakin indah dan berarti.

http://deltawhiski.wordpress.com/2008/02/22/mendikte-tuhan/

———————–

Info pelatihan bagi Praktisi HRD Indonesia, dapat di lihat di SINI

Leave a Reply