13 Hal Penting Saat Merawat Bayi

November 10, 2008

 

Merawat bayi

Merawat bayi

13 Hal Penting Saat Merawat Bayi

 

Merawat bayi memang tidak gampang. Di sini ada beberapa hal yang bisa dicermati orangtua berkaitan dengan upaya merawat bayi, agar proses tumbuh kembangnya berjalan optimal.

*1. Taruh bayi di dada saat lahir*
Menurut Dr. Hardiono Pusponegoro, Sp.A(K), bayi yang baru lahir sebaiknya segera ditaruh di dada ibu. “Jangan dimandikan dulu,” ujar dokter dari Klinik Anakku ini. Dalam video yang pernah dipresentasikan oleh konsultan laktasi, Dr. Utami Roesli, Sp.A(K), ICBLC, bayi akan mencari puting ibu sesaat setelah lahir dan diletakkan di dada. Pada waktu itu pula, bayi akan menyedot ASI meski ASI belum keluar. Isapan bayi ini justru akan merangsang produksi ASI. Bayi yang tidak menyedot ASI dalam 30 menit pertama setelah lahir, kapasitas menyusunya akan turun.

*2. Tidak membuang ASI pertama yang keluar*
Warna kuning yang keluar dari ASI pertama kali tidak boleh dibuang. ASI yang disebut kolostrum ini mengandung protein dan zat kekebalan tubuh (antibodi) yang akan melindungi bayi, sehingga lebih kuat menghadapi penyakit.

*3. Tidak ada ASI basi*
“Tak seperti susu formula, ASI tidak pernah basi,” ujar Dr. Caroline Mulawi, Sp.A(K). Ibu yang karena sesuatu hal tidak bisa menyusui bayinya dalam beberapa waktu, tak perlu ragu untuk menyusui bayinya lagi. Kualitas ASI yang diberikan pada saat itu sama baiknya seperti yang keluar pertama kali.

*4. Bayi yang diberi ASI lebih mudah lapar*
Sifat ASI yang mudah dicerna membuat bayi lebih cepat lapar. Bayi yang mendapat ASI akan minum lebih sering sekitar 1-3 jam sekali. Bila berat badan bayi yang diberi ASI terus bertambah, menjadi pertanda bayi sudah cukup mendapat makanan. Jangan memberikan makanan padat sebelum waktunya, agar tak menimbulkan sumbatan pada usus yang bisa berakibat fatal. Sistem pencernaan bayi belum sempurna hingga ia berusia 4 bulan.

*5. Tidak merebus ASI yang disimpan*
Ibu yang bekerja dapat memeras ASI dan menyimpannya dalam botol steril. Setiap botol ASI itu hendaknya ditulis tanggal dan jam pemerasan. ASI yang disimpan dalam freezer bisa bertahan antara 2 minggu hingga 4 bulan. Pada suhu kamar ASI bertahan selama 4-8 jam, sedangkan dalam lemari pendingin bertahan sekitar 24-48 jam.

Pemberian ASI dilakukan dengan metode first in first out. ASI yang masuk lemari pendingin atau freezer terlebih dulu, itulah yang harus keluar lebih dulu. Saat hendak diberikan, ASI jangan dipanaskan dengan pemanas atau microwave karena zat yang terkandung dalam ASI bisa rusak. Untuk ASI yang berada dalam lemari pendingin, sebaiknya rendam botol dalam wadah berisi air hangat sampai ASI tidak terasa dingin lagi. Baru diberikan pada bayi.
Sementara untuk ASI yang disimpan dalam freezer, hendaknya dipindahkan terlebih dulu ke lemari pendingin hingga mencair. Setelah itu baru dihangatkan dalam wadah berisi air hangat.

*6. Bayi menangis*
Menangis adalah cara bayi berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya. Bayi menangis tak melulu karena lapar. Bisa jadi karena popoknya basah akibat pipis atau buang air besar. Bisa juga karena posisi saat menyusu yang tidak benar, sehingga tidak memperoleh ASI dalam jumlah yang tepat.

Tangisan bayi, menurut Dr. Caroline dari RS Omni Medical Center, juga bisa menjadi pertanda ia sakit. Pada 2-3 bulan pertama misalnya, bayi sering menderita kolik atau sakit perut yang tidak diketahui penyebabnya. “Biasanya gejala itu berkurang setelah usia tiga bulan,” ujarnya. Bisa pula tangisan itu karena demam. Kalau itu yang terjadi, segera bawa bayi ke dokter.

Menangis pun dapat menjadi cara bayi menarik perhatian orang lain, terutama ibu dan ayahnya. Mungkin ia ingin mendapat dekapan dan kasih sayang dari orangtua. Hendaknya orangtua tidak membiarkan bayi menangis terlalu lama karena bayi akan menjadi lelah dan kemampuan menyusunya berkurang. Si ibu juga bisa frustrasi dan kesal, sehingga dapat berakibat buruk bagi perkembangan psikologis bayi.

Saat bayi menangis, ibu atau ayah bisa menggendong dan menimangnya sambil bersenandung, menaruhnya di kereta bayi, lalu ajaklah jalan-jalan di luar kamar, atau putarkan musik lembut. Kalau ibu sedang lelah, minta pengasuh atau orang lain membantu menggendong bayi. Sebab, semakin kesal dan frustrasi sang ibu, bayi akan semakin gelisah dan menangis lebih keras.

*7. Timang bayi*
Hingga saat ini masih terdengar persepsi keliru, sehingga muncul saran untuk tidak sering-sering menggendong bayi. Khawatir nanti “bau tangan” dan bayi menjadi manja. Hal ini tidak benar. Justru banyak penelitian mengungkapkan, bayi yang segera mendapat perhatian sesaat setelah menangis, entah dengan ditimang maupun didekati, kelak akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara emosional. Ia pun nantinya menjadi orang mandiri serta lebih percaya diri. Sebaliknya, bayi-bayi yang tidak mendapat perhatian dan dibiarkan menangis terlalu lama, saat dewasa akan menjadi pribadi yang kurang mandiri, peragu, atau tidak mempunyai kepercayaan diri yang kuat.

*8. Kompres air hangat*
Memberikan minum lebih sering sangat membantu menurunkan demam ditambah obat penurun demam. Kompres untuk bayi lebih baik jika dengan air hangat. Dijelaskan Dr. Caroline, beberapa penelitian menunjukkan, kompres hangat lebih bermanfaat dalam menurunkan demam dibandingkan kompres air dingin. Jangan mengompres dengan alkohol karena khawatir keracunan. Bila demam masih berlanjut dan bertambah tinggi segera bawa bayi ke dokter.

*9. Bayi sering buang air besar*
Bayi yang memperoleh ASI awalnya fesesnya cenderung agak cair dan seperti berbiji-biji. Frekuensinya pun bisa 4-6 kali sehari. Namun, pada usia 1-2 bulan, frekuensinya bisa berkurang hingga 4-6 hari sekali. Tidak perlu khawatir akan kondisi tersebut selama bayi tetap tenang, tidak rewel, perut tidak kembung, tidak muntah terus-menerus, dan feses tidak keras. Kondisi ini dikarenakan ASI lebih banyak diserap usus dan perlu waktu lebih lama untuk dikeluarkan sebagai feses. Feses bayi usia 2-3 bulan akan mulai berampas. Baru pada usia di atas 4 bulan, feses mulai berbentuk. Yang penting, tambah Dr. Caroline, feses bayi tidak berubah bentuk menjadi cair tanpa ampas atau disertai darah. Bila ini yang terjadi, bayi harus segera dibawa ke dokter. Begitu pula bila bayi tidak BAB lebih dari 6 hari.

*10. Perhatikan hal-hal kecil*
Di usia dua bulan, bayi bisa merespon dengan baik saat diajak bicara oleh ibu atau ayahnya. Di usia tiga bulan, saat kedua tangan bayi diangkat secara perlahan hingga badan ikut terangkat, lehernya harus ikut terangkat. “Bila leher bayi tidak ikut terangkat sudah harus dicurigai adanya ketidaknormalan,” ujar Dr. Hardiono. Pada usia tiga bulan bayi sudah tidak mengepal tangan. Bila di usia 4 bulan tangan bayi masih mengepal, 90 persen mengindikasikan adanya masalah.
Gejala klasik autis juga bisa dilihat dari hal-hal kecil. Contohnya, bayi tidak merespon saat diajak bicara, suka memukul-mukul kepala, ukuran kepala cenderung lebih besar, batita membalik mobil-mobilan lalu memutar ban hingga berkali-kali, dan asyik dengan dunianya sendiri. Autis terjadi karena kurangnya serotonin yang merupakan neurotransmitter pada otak. Bila diketahui dan diterapi sejak dini, di bawah usia 2 tahun, hasilnya akan baik. Akan lebih sulit bila baru diketahui pada usia 5 tahun, karena sel saraf sudah tidak tumbuh lagi.

*11. Berat badan harus naik*
Bayi harus dipantau berat badan, tinggi badan, serta lingkar kepala. Hasil pantauan tersebut bisa dibandingkan dengan saudara sekandung pada usia yang sama atau anak lain yang sebaya. Bayi yang tetap kurus tidak perlu dikhawatirkan selama berat badannya terus naik. Mungkin saja posturnya memang kecil. Akan menjadi masalah bila berat badan bayi tidak naik dan memotong dua garis persentil dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). Itu bisa menjadi indikasi adanya masalah atau penyakit yang diderita bayi, misalnya kondisi kurang gizi.

*12. Tak selalu harus ke dokter*
Orangtua, dikatakan Dr. Hardiono, sering membawa bayi ke dokter saat mengalami penyakit ringan. Bayi batuk, pilek, atau diare ringan, tidak harus dibawa ke dokter. “Karena 60-80 persen sakit yang terjadi pada bayi maupun anak-anak bisa sembuh. Juga tak harus selalu diobati dengan antibiotik bila hanya sakit batuk-pilek biasa,” katanya.

*13. Imunisasi sesuai jadwal*
Imunisasi diperlukan untuk memberikan kekebalan bagi bayi. Dengan imunisasi, 2,7 persen kematian per tahunnya bisa dicegah. Beberapa penyakit penting dapat dicegah lewat imunisasi seperti difteri, pertusis, tetanus, polio, meningitis, pneumonia, Hib, serta hepatitis. Sejauh ini, dikatakan Dr. Hardiono, pneumonia menjadi penyebab kematian anak terbanyak di dunia, diikuti AIDS, diare, TBC, malaria, dan campak. Vaksin dasar yang diberikan kepada bayi adalah DPT, polio, hepatitis, Hib, campak, dan BCG. Rentang waktu vaksinasi adalah dua bulan karena lebih meningkatkan kekebalan. Efek dari vaksin dasar seperti demam tinggi, kejang, bengkak maupun syok, masih menjadi sumber kekhawatiran orangtua.

Saat ini sudah ada vaksin kombinasi 5 in 1 yaitu difteri, pertusis, tetanus, polio, dan Hib. Vaksin kombinasi mengurangi suntikan pada bayi. Dengan vaksin kombinasi bayi jarang demam, kalaupun demam tidak terlalu tinggi, jarang bengkak, dan kejang pun berkurang. Tak perlu khawatir, vaksin baru saat ini sudah tidak mengandung merkuri.
www.gayahidupsehatonline.com
diambil dari sebuah milis.


Tip Merawat Bayi Prematur di Rumah

November 10, 2008

 

Merawat Bayi Prematur

Merawat Bayi Prematur

BAYI yang dilahirkan prematur biasanya membutuhkan perawatan intensif maupun semi-intensif di rumah sakit. Hal ini karena sistem atau organ-organ tubuhnya belum matang sehingga bayi butuh bantuan untuk tetap hidup. Namun, tidak semua bayi prematur harus dirawat di rumah sakit. Jika kondisinya memungkinkan, bayi prematur bisa langsung dibawa pulang ke rumah. 

Menurut dr Firman Chatab SpA, dari RS. MH. Thamrin Internasional, Jakarta Pusat, penentuan kondisi bayi prematur layak dibawa pulang atau tidak, bukan hanya berdasar pada usia kehamilan. Berat badan bayi saat lahir juga harus dipertimbangkan. 

“Bayi prematur dengan berat badan minimal 1,8-2 kilogram sudah aman untuk dibawa pulang asalkan tidak ada kelainan atau memiliki faktor penyulit akibat belum sempurnanya semua organ tubuh,” jelasnya. 

Menurutnya, berat badan dua kilogram ini setara dengan usia kehamilan 34 minggu di mana bayi sudah memiliki reflek hisap dan pola nafas teratur. Pada bayi yang lahir di bawah 34 minggu belum memiliki pola nafas teratur sehingga terkadang “lupa” bernafas karena paru-parunya belum sempurna. Sebelum pulang, bayi prematur harus mampu minum secara aktif. 

Sebagian besar NICU (Neonatal Intensive Care Unit) memiliki persyaratan tertentu agar bayi diizinkan pulang ke rumah:

1. Suhu tubuh bayi dapat dipertahankan bila sedang berada dalam ruangan, umumnya pada usia 34 minggu atau berat 2000 gram. 
2. Bayi cukup makan untuk mendapatkan tambahan berat 20 hingga 30 gr setiap harinya. 
3. Bayi cukup sehat untuk pulang ke rumah (tidak membutuhkan pengobatan yang memerlukan penanganan di rumah sakit). 
4. Tidak memiliki perubahan besar saat pengobatan atau pemberian oksigen.
5. Beberapa hari setelah bayi dipulangkan, bayi harus kembali diperiksa ke dokter setiap satu atau dua minggu hingga bayi memperoleh kenaikan berat badan yang sesuai, serta sudah dapat beradaptasi dengan keadaan rumah. Pastikan dokter mengetahui riwayat kehamilan, kondisi bayi saat baru lahir, hingga risiko komplikasi yang dapat terjadi pada bayi.

 

(Mom& Kiddie//tty)

http://lifestyle.okezone.com/


Anak Anda Belum Bisa jalan?

October 12, 2008

 

bayi belum bisa berjalan

diperankan oleh Model Bayi : Andromeda LM, 8 bln

 

 

Anak Anda Belum Bisa jalan?

Lucu sekali melihat anak baru belajar berjalan. Masih goyang-goyang dan agak takut. Biasanya, dalam waktu pendek tiba-tiba ia sudah dapat berjalan baik bahkan berlari-lari.

Berjalan merupakan bagian dari perkembangan gross-motor atau motor kasar. Dimulai dari tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, berjalan, berlari dan melompat. Umur bisa berjalan sekitar 1 tahun.

Beberapa anak yang mengalami terlambat berjalan. Bila belum berjalan umur 1 ½ tahun mutlak harus diperiksa lengkap. Namun, menunggu bukanlah langkah yang bijaksana. Cermati berbagai gejala yang mungkin ada, sebelum menunggu umur tersebut.
Sejak bayi lahir, kita harus memantau tonus atau kekenyalan tubuh. Bayi normal terasa enak bila digendong. Tonus yang tidak normal dapat berupa bayi yang lemas atau hipotonia atau bayi yang terlalu kaku atau spastik.

 

Lunglai seperti boneka atau kaku?

Ciri bayi hipotonia terasa seperti kita melihat boneka. Kepalanya tidak kuat, lehernya terkulai ke depan atau belakang. Ia tidak kuat menjepit dengan ketiaknya. Bila didudukkan terjatuh ke depan atau belakang, dengan punggung sangat melengkung. Hipotonia dapat disebakan gangguan otak atau gangguan saraf tepi dan otot.
Bayi spastik atau hipertonia memperlihatkan ciri sebaliknya. Kaki-tangan menjadi terjulur kaku dan sangat sulit dilipat. Leher dan batang tubuhnya juga akan menjadi kaku, tetapi awalnya belum terlihat. Kepala selalu terbanting ke arah belakang. Ia juga sering menegangkan badannya ke arah belakang. 

Apa pengetahuan yang bisa kita ambil dari keluhan orangtua?

Bayi baru lahir
Mita, bayi perempuan lahir dari kehamilan yang normal.
Berat badannya 3 kg, panjang badannya 50 cm. Tetapi lingkar kepalanya hanya 27 cm. Mita mengalami mikrosefali atau ukuran lingkar kepala terlalu kecil. Pemeriksaan MRI kepala membuktikan bahwa otaknya masih kurang berkembang. Periksalah ukuran lingkar kepala yang merupakan cermin dari perkembangan otak. Untuk anak laki-laki antara cm dan cm, sedangkan anak perempuan antara . cm dan . cm. Perkembangan selanjutnya ternyata sangat terlambat.

Bayi umur 4 bulan
Ibu merasa bahwa Aditya kurang kuat. Saat ditengkurapkan, ia tidak dapat mengangkat kepalanya, atau mendorong dengan kedua lengannya. Kedua tungkainya juga kurang bergerak. Ia juga mengalami kesulitan minum. Ternyata Aditya mengalami gangguan otot yang serius.

Esi tampak sebaliknya. Kok kaku sekali ya? Kedua tangan dan kaki agak terjulur kaku, kepala cenderung membanting ke belakang. Kedua telapak tangannya masih terkepal erat. Esi mengalami kaku di seluruh tubuhnya akibat cidera otak yang disebut sebagai cerebral palsy. Telapak tangan yang masih terkepal erat umur 4 bulan hampir selalu abnormal.

Bayi umur 8 bulan
Rina lahir prematur dengan berat hanya 1600 gram. Saat ini ia dapat menggunakan kedua tangannya dengan baik, tetapi kakinya terasa agak kaku dan sulit bergerak. Bila diberdirikan, kedua tungkainya tidak dapat bermain naik turun, tetapi agak kaku. Rina mengalami spastic diplegia, tungkai bawah menjadi kaku karena saat kelahiran terjadi sedikit perdarahan di bagian tertentu dari otak. Hal ini sangat sering ditemukan pada bayi prematur.

Bayi 1 tahun
Tono sudah dapat duduk dengan baik, tetapi caranya maju ke depan agak aneh. Ia tidak merayap, merangkak atau berjalan, tetapi maju ke depan dengan ngesot. Ngesot dapat merupakan tanda gangguan saraf.

 

Source : anakkudotnet